Perdarahan Setelah Aborsi, Kapan Harus ke Dokter?

pendarahan setelah aborsi

Berapa Lama Perdarahan Setelah Aborsi

Perdarahan setelah aborsi dapat membuat seseorang merasa khawatir. Pada banyak kasus, perdarahan memang dapat muncul setelah proses aborsi. Namun, setiap orang dapat mengalami jumlah dan lama perdarahan yang berbeda.

Anda perlu mengenali kondisi tubuh setelah aborsi. Perdarahan yang sangat banyak, nyeri hebat, demam, pusing berat, atau pingsan membutuhkan perhatian medis.

WHO juga menyarankan agar pasien mendapat informasi mengenai gejala yang membutuhkan pemeriksaan setelah aborsi, termasuk perdarahan berat yang berlangsung lama, nyeri yang tidak membaik, dan demam.

Apakah Perdarahan Setelah Aborsi Normal?

Perdarahan dapat muncul setelah aborsi. Kram atau nyeri ringan juga dapat menyertai perdarahan.

Jumlah darah dan lama perdarahan dapat berbeda pada setiap orang. Metode aborsi dan usia kehamilan juga dapat memengaruhi kondisi tersebut.

Karena itu, jangan membandingkan kondisi Anda dengan pengalaman orang lain.

Tenaga kesehatan dapat menilai kondisi Anda secara lebih tepat jika muncul keluhan atau tanda bahaya.

Berapa Lama Perdarahan Setelah Aborsi?

Lama perdarahan dapat berbeda pada setiap orang.

Panduan klinis WHO menjelaskan bahwa perdarahan ringan atau bercak dapat muncul setelah aborsi. Setelah aborsi medis, perdarahan cenderung lebih berat dan biasanya berlangsung sekitar beberapa hari. Pada sebagian kasus, perdarahan dapat berlangsung lebih lama.

Anda tidak perlu panik hanya karena masih melihat darah. Namun, Anda perlu memperhatikan jumlah darah, nyeri, demam, dan kondisi tubuh secara keseluruhan.

Kapan Perdarahan Setelah Aborsi Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter kandungan di klinik aborsi promedis jika perdarahan terus bertambah atau Anda merasa khawatir dengan kondisi tubuh.

Anda juga perlu segera mencari pertolongan apabila mengalami:

  • perdarahan sangat banyak
  • nyeri perut atau panggul yang berat
  • demam atau menggigil
  • cairan vagina yang berbau tidak biasa
  • pusing berat
  • tubuh terasa sangat lemah
  • hampir pingsan
  • pingsan
  • atau kondisi kesehatan semakin memburuk.

WHO memasukkan perdarahan berat yang berlangsung lama, nyeri yang tidak membaik, dan demam sebagai alasan untuk kembali mendapatkan perawatan.

Seberapa Banyak Perdarahan yang Perlu Diwaspadai?

Jumlah perdarahan menjadi salah satu hal penting yang perlu Anda perhatikan.

Panduan klinis WHO menggunakan perdarahan berat sebagai salah satu tanda untuk kembali ke rumah sakit atau klinik. Salah satu patokan klinis yang digunakan adalah pembalut berukuran besar yang penuh lebih dari dua buah per jam selama dua jam berturut-turut.

Jika Anda mengalami kondisi tersebut, jangan menunggu perdarahan berhenti sendiri. Segera cari pertolongan medis.

Nyeri Setelah Aborsi, Apakah Berbahaya?

Kram dan nyeri perut dapat muncul setelah aborsi.

Namun, Anda perlu segera berkonsultasi jika nyeri terasa sangat berat, terus meningkat, atau tidak membaik dengan obat pereda nyeri yang sesuai.

Perdarahan yang banyak bersama nyeri hebat juga membutuhkan pemeriksaan segera.

Tenaga kesehatan dapat mencari penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.

Demam Setelah Aborsi

Demam atau menggigil setelah aborsi juga perlu Anda perhatikan.

Terutama jika demam muncul bersama nyeri perut, tubuh terasa sangat lemah, atau cairan vagina memiliki bau yang tidak biasa.

Kondisi tersebut dapat menunjukkan infeksi sehingga Anda perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis. WHO juga memasukkan demam sebagai salah satu alasan untuk mencari perawatan lanjutan setelah aborsi.

Pusing atau Pingsan Setelah Aborsi

Pusing dapat muncul karena berbagai sebab. Namun, pusing berat, tubuh sangat lemah, hampir pingsan, atau pingsan setelah perdarahan membutuhkan pertolongan segera.

Jangan mengabaikan gejala tersebut, terutama jika perdarahan terus berlangsung.

Segera minta bantuan dan pergi ke fasilitas kesehatan apabila Anda kehilangan kesadaran atau merasa tidak mampu berdiri dengan aman.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Perdarahan Sangat Banyak?

Jangan mencoba menghentikan perdarahan berat dengan cara sendiri.

Segera cari pertolongan medis atau pergi ke fasilitas kesehatan terdekat. Jika merasa lemas atau pusing, minta orang lain menemani Anda.

Sampaikan kepada tenaga kesehatan kapan perdarahan mulai terjadi, seberapa banyak darah keluar, serta gejala lain yang Anda rasakan.

Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian dengan lebih cepat.

Apakah Perlu Kontrol Setelah Aborsi?

Tidak semua orang membutuhkan pemeriksaan rutin setelah aborsi yang berlangsung tanpa komplikasi. WHO menyatakan bahwa kunjungan lanjutan rutin tidak selalu diperlukan jika kondisi pasien baik dan pasien sudah mendapat informasi mengenai tanda komplikasi.

Namun, Anda tetap perlu mencari bantuan medis jika muncul keluhan.

Dokter atau tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan apabila Anda mengalami perdarahan berkepanjangan, nyeri yang tidak membaik, demam, atau tanda lain yang mengkhawatirkan.

Mengapa Pemeriksaan Medis Penting?

Perdarahan setelah aborsi dapat memiliki berbagai penyebab.

Dokter dapat menilai kondisi Anda dan menentukan apakah Anda membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.

Komplikasi setelah aborsi memang jarang ketika seseorang memperoleh pelayanan yang aman, tetapi komplikasi tetap dapat terjadi. WHO mencantumkan perdarahan, infeksi, dan aborsi tidak lengkap sebagai beberapa komplikasi yang perlu tenaga kesehatan tangani.

Karena itu, jangan menunda pemeriksaan ketika muncul tanda bahaya.

Kapan Harus ke IGD?

Anda perlu segera pergi ke IGD jika mengalami:

  • perdarahan sangat banyak
  • pingsan atau hampir pingsan
  • pusing berat
  • tubuh sangat lemah
  • nyeri perut atau panggul yang sangat berat
  • demam atau menggigil
  • atau beberapa gejala tersebut muncul bersamaan.

Jangan menunggu kondisi memburuk sebelum mencari pertolongan.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengatasi Kecemasan Saat Hamil

Kesimpulan

Perdarahan setelah aborsi dapat terjadi dan jumlahnya dapat berbeda pada setiap orang. Anda perlu memperhatikan jumlah darah dan kondisi tubuh setelah aborsi.

Segera ke dokter atau fasilitas kesehatan jika mengalami perdarahan sangat banyak, nyeri hebat, demam, pusing berat, pingsan, atau kondisi tubuh semakin memburuk.

Jangan mencoba menangani perdarahan berat sendiri. Tenaga kesehatan dapat membantu mencari penyebab keluhan dan memberikan penanganan yang sesuai.

Pertanyaan

Apakah perdarahan setelah aborsi normal?
Perdarahan dapat muncul setelah aborsi. Namun, perdarahan yang sangat banyak atau berlangsung lama membutuhkan pemeriksaan medis.

Kapan perdarahan setelah aborsi berbahaya?
Anda perlu waspada ketika perdarahan sangat banyak, terus meningkat, atau muncul bersama nyeri hebat, demam, pusing, maupun pingsan.

Berapa banyak perdarahan yang dianggap berat?
Panduan klinis WHO menggunakan patokan lebih dari dua pembalut besar yang penuh dalam satu jam selama dua jam berturut-turut sebagai tanda untuk mencari pertolongan medis.

Apakah nyeri setelah aborsi normal?
Kram dapat muncul setelah aborsi. Namun, nyeri yang sangat berat atau tidak membaik membutuhkan pemeriksaan.

Apakah demam setelah aborsi berbahaya?
Demam atau menggigil dapat menjadi tanda masalah yang membutuhkan pemeriksaan, terutama jika muncul bersama nyeri atau cairan vagina yang berbau tidak biasa.

Kapan harus ke IGD setelah aborsi?
Segera ke IGD jika mengalami perdarahan sangat banyak, pingsan, pusing berat, nyeri hebat, demam, atau kondisi tubuh memburuk.

Facebook
Twitter
Email
WhatsApp